Produk Baja Indonesia Ditarik Suspensi Perlakuan Istimewa oleh Malaysia

Produk Baja Indonesia Ditarik Suspensi Perlakuan Istimewa oleh Malaysia

besi siku – Malaysia mempertimbangkan mengembalikan fasilitas preferential tariff atas ekspor produk Hot Rolled Plate (HRP) terhadap PT Gunung Raja Paksi (PT GRP), salah satu produsen baja Indonesia yang memanfaatkan certificate of origin Form D untuk ekspor ke Malaysia.

Hal ini diberi tahu secara sah oleh Pemerintah Malaysia pada 7 Maret 2018. Keputusan Pemerintah Malaysia ini akan tepat sasaran berlaku mulai 12 Maret 2018.

“Pemerintah Malaysia menyuarakan produk HRP buatan PT GRP dikala ini telah memenuhi kriteria asal barang sebagaimana dipegang dalam ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA),” kata Dirjen Perdagangan Luar Negeri Oke Nurwan dalam keterangan sah, Kamis (8/3/2018).

Sebelumnya, Pemerintah Malaysia membendung fasilitas preferential tariff sebesar 5% kepada produk HRP buatan PT GRP dalam skema ATIGA. Keputusan hal yang demikian didasarkan pada hasil verifikasi tahun 2009 yang meragukan pemenuhan kriteria Regional Value Content (RVC) sebesar 40% dari perusahaan hal yang demikian. Klaim Pemerintah Malaysia yaitu meragukan asal slab sebagai bahan dasar produk HRP yang mendominasi bagian harga pokok produksi produk HRP buatan PT GRP.

Seiring dengan adanya investasi fasilitas produksi slab di PT GRP, Ditjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan mensupport adanya verifikasi baru dari Pemerintah Malaysia pada 2017. Pemerintah Malaysia bahkan menyambut bagus permintaan Pemerintah Indonesia dengan melakukan on the titik verification pada 7-8 Desember 2017 di PT GRP.

“Pihak Malaysia menampilkan tanggapan positif atas dokumen dan fakta yang dipresentasikan di lapangan dan mendapat pembuktian bahwa PT GRP cakap memasok slab secara mandiri. Cara isu internal perusahaan juga bisa menjamin pemakaian slab orisinil PT GRP untuk produksi HRP tujuan pasar Malaysia,” kata Oke.

Menurut data BPS, ekspor HRP dengan HS 7208.51 ke Malaysia menempuh poin USD207,2 juta dengan volume 395.900 ton pada akhir 2017. Terdapat peningkatan sekitar 135% dari segi poin ekspor dan 74% dari segi volume ekspor bila dibandingi tahun 2016.

“Pengembalian fasilitas biaya istimewa terhadap PT GRP ini akan memulihkan keyakinan buyer di Malaysia untuk membeli HRP produksi PT GRP dan mensupport peningkatan ekspor HRP ke Malaysia,” tambah Direktur Pengamanan Perdagangan Kemendag Pradnyawati.

 

Baca Juga: plat bordes

Persaingan Baja yang Ketat Tidak Membuat Perusahaan Ini Sulit Untung

Persaingan Baja yang Ketat Tidak Membuat Perusahaan Ini Sulit Untung

wire mesh – PT Krakatau Steel (Persero) Tbk mencatatkan peningkatan volume penjualan sebesar 24,44% pada semester I-2018. Hal ini berdampak pada peningkatan pendapatan Perseroan sebesar 34,75% menjadi USD854,27 juta. Perseroan bahkan membukukan laba operasi sebesar USD9,34 juta pada jangka waktu yang sama. Peningkatan dan usaha pembetulan terus dikerjakan untuk pencapaian untung di 2018.

Di tengah ketatnya kompetisi bisnis baja, Perseroan cakap mencatatkan peningkatan volume penjualan sebesar 24,44% pada semester I 2018 diperbandingkan dengan jangka waktu yang sama tahun lalu. Tapi demikian, peningkatan volume impor baja konsisten perlu menjadi perhatian Perseroan, industri baja nasional dan Pemerintah. Hal ini dipaparkan dalam acara Rapat Awam Pemegang Saham Luar Awam PT Krakatau Steel (Persero) Tbk di Balai Kartini pada Kamis, 6 September 2018.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia di semester I 2018 sebesar 5,17% sudah menyokong peningkatan konsumsi baja nasional sebesar 5,51%. Disisi lain, peningkatan harga baja global sudah menyokong peningkatan harga baja di pasar dalam negeri. Hal ini berdampak pada peningkatan pendapatan Perseroan sebesar 34,75% menjadi USD854,27 juta dari sebelumnya USD633,98 juta.

“Ini ialah momentum kebangkitan Krakatau Steel. Ketika ini Krakatau Steel berada dalam posisi yang on the track, sebab dikala ini daya kerja Krakatau Steel telah membaik sehingga di akhir tahun ini dapat meraih untung. Kecuali itu konsentrasi kami di jajaran direksi ialah untuk lantas memecahkan proyek-proyek strategis Krakatau Steel supaya lantas bisa memberikan kontribusi positif terhadap perusahaan,” ujar Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk Mas Wigrantoro Roes Setiyadi di Jakarta, Kamis (9/6/2018).

Di sisi internal, Perseroan sudah dan terus melaksanakan bermacam upaya pembetulan daya kerja untuk menghasilkan Perseroan sehat dan tumbuh secara berkesinambungan diantaranya lewat meningkatkan likuiditas. Berikutnya memecahkan proyek strategis, transformasi sales dan marketing, program efisiensi tarif lewat pola operasi yang maksimal, optimalisasi aset, dan restrukturisasi keuangan, sehingga pada semester I 2018 Perseroan bisa membukukan laba operasi sebesar USD9,34 juta.

Angka hal yang demikian naik lebih dari dua kali lipat dibanding jangka waktu yang sama tahun lalu sebesar USD4,44 juta. Mas Wigrantoro mengungkapkan daya kerja Perseroan di semester I tahun 2018 menunjukan pembetulan yang signifikan. Efisiensi dan pemberesan dari Perseroan juga cakap meningkatkan laba usaha dan menurunkan angka kerugian dengan signifikan.

“Kami optimis bisa menempuh untung di tahun 2018. Pada 2017 saja, efisiensi yang sukses diperoleh dari logistik seperti pengadaan gas, bahan baku dan lainnya itu menempuh USD10 juta,” tambahnya.

Bendung rangka menjaga kesinambungan bisnis kedepan, Perseroan terus melaksanakan bermacam program strategis di antaranya memecahkan pembangunan fasilitas produksi yang sedang dilaksanakan, merapikan portofolio bisnis entitas si kecil dan entitas asosiasi, serta mengerjakan bermacam program sinergi BUMN, yang seluruhnya diinginkan cakap meningkatkan daya kerja Perseroan di tahun-tahun akan datang.

Pada 29 Agustus yang lalu Perseroan sudah mensahkan proyek di PT Krakatau Tirta Industri merupakan Meskipun Cipasauran. Proyek ini menghasilkan si kecil perusahaan Krakatau Steel yang bergerak di bidang pengolahan air bersih industri akan meningkatkan kapasitas sebesar 40% menjadi 2400 liter per detik.

Sebelumnya, pada 7 Agustus yang lalu juga sudah dilegalkan secara komersial pabrik baja patungan antara Perseroan dengan Nippon Steel & Sumitomo Metal Jepang ialah PT Krakatau Nippon Steel Sumikin yang berkapasitas 480.000 ton per tahun. Pabrik ini akan memproduksi baja khusus yang didedikasikan untuk memenuhi keperluan industri otomotif yang dikala ini hampir beberapa besar diimpor.

Sementara itu untuk perkembangan proyek strategis, pembangunan pabrik Hot Strip Mill #2 telah menempuh 78,17% per Juni 2018 dan diproyeksikan akan selesai pada April 2019 (First Coil). Diinginkan untuk proyek Blast Furnace, Perseroan telah memecahkan pencapaian proyek sebesar 99,51% per Juni 2018 dan disiapkan untuk First Blow In (FBI) pada Desember 2018.

Tenaga ke depan dengan pembangunan dermaga 7.1 dan 7.2 oleh PT Krakatau Bandar Samudera yang akan selesai pada Januari 2019 dan pembangunan PLTU batu bara 1×150 MW oleh PT Krakatau  Listrik yang akan selesai pada Oktober 2021 akan menjadi kontribusi positif si kecil perusahaan kepada Perseroan.

Baca Juga: harga besi beton

Genset Milik Telkomsel Mengeluarkan Asap, 7 Orang Pekerja Bangunan yang Sedang Membangun Kantor Desa Meninggal

Genset Milik Telkomsel Mengeluarkan Asap, 7 Orang Pekerja Meninggal

jual genset – Sebanyak tujuh orang diungkapkan meninggal dunia dampak menghirup karbon monoksida atau CO yang dikeluarkan oleh genset di ruang pertemuan Balai Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jumat (29/9/2017) lalu. Menurut keterangan dari Kepala Desa Ngadas Mujianto, genset yang menyebabkan tujuh orang tewas itu milik vendor perusahaan operator seluler Telkomsel. Digambarkan Mujianto, genset itu awam dinyalakan ketika listrik di wilayah itu padam.

Fungsinya supaya Base Transceiver System (BTS) milik Telkomsel konsisten menyala walaupun listrik padam. BTS itu telah dipasang semenjak sebagian tahun yang lalu untuk memancarkan jaringan seluler. “Kita memerlukan sinyal, walhasil Telkomsel ingin memasang tower (BTS),” katanya ketika mengantarkan jenazah korban ke kamar mayat Rumah Sakit Saiful Anwar, Kota Malang.

Mujianto mengatakan, posisi BTS milik Telkomsel itu pas berada di belakang balai desa. Untuk keamanan, genset untuk menghidupkan BTS itu diletakkan di dalam ruang kantor desa. Sekitar dua pekan yang lalu, genset itu dipindahkan ke ruang pertemuan balai desa sebab kantor desa sedang dibangun kembali. Ruang pertemuan itu seluas 7 x 17 meter. “Jadi memang ditaruh di dalam sebab jikalau malam tak ada yang jaga,” jelasnya.

Pada ketika yang berbarengan, ruang pertemuan balai desa itu diterapkan sebagai daerah tidur pekerja bangunan yang sedang membangun kantor desa. Nahas, para pekerja dan teknisi vendor Telkomsel itu terlelap di dalam ruang pertemuan hal yang demikian dengan situasi genset masih menyala sebab listrik sedang padam. Hasilnya, genset yang mengeluarkan gas karbon monoksida dihirup oleh tujuh orang yang tidur di dalam ruangan itu. “Sebelum pulang (dari balai desa) aku telah pesan agar tak ditutup pintunya sebab bau genset masih menyengat. Ya, mungkin sebab capek atau gimana mereka seketika tidur,” jelasnya.

Dikenal, sebanyak tujuh orang meninggal dunia di ruang pertemuan Balai Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jumat (29/9/2017) lalu. Mereka meninggal diduga sebab menghirup karbon monoksida yang dikeluarkan oleh genset yang ada di dalam ruangan itu. Korban tewas antara lain Hasrul Trio Purnomo (29), warga Desa Mojodadi, Kecamatan Kedungpring, Kabupaten Lamongan; Ahmad Syaifudin, warga Desa Wonorejo, RT 5 RW 2, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang; Moh Yusuf (21), warga Jalan Jaksa Agung Suprapto I 93d, Kota Malang dan; Nur Rokim (33) warga Desa Wonorejo, RT 5 RW 2, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Kecuali itu Jumadi (33), warga Desa Gedogwetan, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang; Imam (19), warga Desa Wonorejo, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang dan Iriawan atau Cak Ir, warga Desa Wonorejo, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang.

Kepala Bidang Logistik dan Kedaruratan pada BPBD Kabupaten Malang Bagyo Setiyono mengatakan, dua di antara tujuh yang meninggal yakni petugas teknisi Telkomsel yang bertugas menghidupkan genset sekiranya listrik padam. Keduanya yakni Hasrul Trio Purnomo (29) dan Moh Yusuf (21). Keduanya menginap di ruang pertemuan balai desa bersama para pekerja bangunan sesudah menyalakan genset. Belum ada penjelasan legal dari pihak perusahaan operator seluler Telkomsel berhubungan genset miliknya yang menyebabkan tujuh orang meninggal dunia.

 

Baca Juga: genset murah